Posted on

Menghitung Hari

Sawaluddin Sembiring

Ketika aku membuka mata,

Aku merenung dalam lamunan ku.

Apa aku sudah mati?!

Kenapa ragaku tak memiliki sayap

Jika aku sudah mati.

Apa aku masih Hidup?

Tapi mengapa aku terjatuh.

Dimana diri Mu,

Dimana Bidadari itu.

Kenapa semua pergi meninggalkan aku sendiri disini.

Saat aku butuh sandaran penantian.

Aku terus mencari,

Tapi aku tak mendengar Nafasnya.

sssttt………………

Aku tak berani berbisik,

Karna kau tersenyum di hadapan Ku.

Mengapa dengan Mu?

Mengapa kau begitu Pucat?

Apa ini SURGA?

Semua ini aneh,

Karna diri Mu, Membuat aku tak percaya.

Tak percaya akan kembalinya diri Mu.

Aku tak berani melihat hari esok.

Karna aku takut ini Berakhir.

Aku tak bearani Menghitung Hari.

Karna aku takut tidur terlalu lama.

Aku ingin terus bersama Mu.

Aku tak ingin Pisah lagi.

Karna Maut telah memisahkan Kita.

Pejamkan mata Mu,

Buat kita melayang Tinggi.

Karna Cinta, Membuat aku masuk kedalam dimensi Mu.

Dimensi yang tak pernah terjadi.

Aku Tak Percaya Kau Telah Pergi……………………………………..

About cerpen_sawal

biarlah mereka yang menilai aku apa adanya. karna aku hanya memelekan mata dan mendengar semua apa yang mereka bilang untuk diriku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s